Titisan Abrahah

Coretan Goel Doel

Dalam sekian kitab sejarah disebutkan bahwa kelahiran baginda Nabi saw. terjadi pada tahun Gajah, sebutan ini ada kaitannya dengan suatu peristiwa “penyerangan” Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah yang konon terjadi pada waktu itu.

Abrahah itu raja Yaman dibawah kekuasaan Najasyi (Negoss) di Ethiopia, dia membangun sebuah kuil di bukit San’a yang diberi nama “Qullais”, dia ingin agar kuil tersebut menjadi pusat orang-orang berhaji, menggantikan pusat yang selama itu di Makkah.

Kabar pun menyebar, penduduk Makkah banyak yang mendengar kabar ambisi Abrahah tersebut, penduduk Makkah banyak pula yang tersinggung, nah, karena ketersinggungan itu, ada salah satu orang dari Bani Kinanah yang datang ke “Qullais” dan dia berak di sana untuk menghina Abrahah dan bangunan kebanggaannya itu. Abrahah mendengar kabar itu, dan meradang.

Pertanyaannya, apa alasan Abrahah menyerang Ka’bah? Apakah semata-mata karena ketersinggungan gara-gara kuilnya di-berak-in? Ataukah ada tujuan lain yang lebih besar?

Ternyata para mufassir ketika mencoba memahami QS. al-Fiel ayat 2, menemukan bahwa sebenarnya ada tujuan besar lain (dipahami dari kata “كيد”, rekayasa, tujuan yang tersembunyi) yang belum sempat disampaikan oleh Abrahah, yaitu menguasai Hijaz, karena Hijaz saat itu menjadi pusat persinggahan para pedagang dan seniman, apabila Hijaz dikuasai, maka semakin “mulus” pula tujuan gerakannya, termasuk penyebaran ideologi dan alirannya.

Tujuan utama Abrahah adalah kekuasaan, tetapi salah satu pintu masuk legitimasi gerakannya adalah ketersinggungan gara-gara kuilnya pas lagi di-berak-in, dia menganggap kuil itu sakral dan dilecehkan, itu yang dibesar-besarkan sebagai alasan yang melegitimasi gerakannya untuk menguasai Hijaz.

Abrahah sebagai salah satu manusia awal yang “menggoreng” isu terkait pelecehan sesuatu yang dianggap sakral untuk ambisi kekuasaan. Belakangan juga terjadi bentuk gerakan yang mirip, ada yang ramai-ramai bela bendera (karena bertuliskan kalimat tauhid yang “sakral”) kemudian kesakralan kalimat itu dijadikan sebagai “bahan olahan” untuk membangun gerakan, bahkan ayat suci pun ikut dieksploitasi dan “diperkosa” untuk melegitimasi gerakan mereka, apakah tujuannya memang benar-benar membela kesakralan kalimat tauhid dan kesucian ayat itu? Ataukah yang mereka bela adalah “kepentingan” kekuasaan?. Cuma nanya, jadi tidak usah berasap…. woles…..hehhehe.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan