Sejarah Desa

Ada 2 Versi Sejarah desa Jinggotan yang mana Nama Jinggotan tidak lepas dari cerita lgenda dari mbah Karto Suro ( Mbah Jenggotan) merupakan sesepuh desa/orang yang babat Desa Jinggotan yang hidupnya semasa dengan kerajaan Kalingga, dalam riwayat Mbah Karto Suro hidup satu masa dengan Mbah Podang Binarian, Nyai Sukowati, Mbah Patih, Mbah Demang dan sangat terkenal akan kekuatan Mistiknya terutama KAYU NOGO SARI (balaikambang) yang tidak bisa tumbuh di luar area Sarean walau hanya jarak 1 cm, bahkan di area Makam disinyalir Masih Tertanam Keris GULING MURIO. Sehingga Mbah Karto Suro ( Mbah Jenggot) Namanya di Abadikan dalam Nama Desa Jinggotan, bahkan ada yang mengatakan nama jinggotan berasal dari nama Pohon-pohon yang saat itu tumbuh kembang disana diantaranya Pohon (Jawar, Inggas, Nipah, Gandarusa, Gandaria, Ori, Talok, Angsana, Nagosari)
Versi I
Menurut cerita atau legenda nama desa Jinggotan diambil dari nama sesepuh yang Bernama Ki Ageng Jenggot yang diyakini oleh warga dimakamkan di Balaikambang RT 02 RW 05 konon Ki Ageng Jenggot adalah santri dari Sunan Muria dalam mendalami ilmu kepada Sunan Muria Ki Ageng Jenggot bersama-sama dengan Ki Gede Bangsri, Ki Banjar dan KI Suro Gotho mereka saling menghormati dan menjunjung tinggi nilai persahabatan dan saling tolong menolong baik dari segi sosial maupun agama.
Untuk mempererat persaudaraan diantara mereka setelan menjadi santri di Kesunan Muria mereka saling bersilahturrohmi tidak terkecuali KI Suro Gotho, pada saat itu ki Suro Gotho silahturrohmi ke Tempat Ki Gede Bangsri, kebetulan Ki Gede Bangsri mempunyai Putri yang cantik jelita yang bernama Dewi Wiji. Pada saat Ki Suro Gotho bersilahturrohmi ke Kediaman Ki Gede Bangsri, Ki Gede Bangsri sedang berada di Kesunan Muria, akhirnya Ki Suro Gotho hanya bertemu dengan Dewi Wiji atau putri dari Ki Gede Bangsri. Dalam pertemuannya Ki Suro Gotho tertarik dengan dengan Dewi Wiji akan Tetapi Dewi Wiji tidak menerima cinta dari Ki Suro Gotho akhirnya Dewi Wiji bergegas keluar dan berlari karena Ki Suro Ghoto memaksa agar Dewi Wiji Mau menikah dengannya.
Dalam pelariannya Dewi Wiji Sampai di Sebuah Rumah yang mana pemilik rumah tidak lain adalah rumah sahabat ayahnya Ki Ageng Jenggot . Pada saat disana KI Suro Ghoto pun bertemu dengan sahabat lamanya Ki Ageng Jenggot . dalam pembicaraan yang panjang Ki Suro Ghoto menyampaikan maksudnya mengejar Dewi Wiji akan tetapi maksud dan tujuan dari Ki Suro Gotho ditentang oleh Ki Ageng Jenggot maka terjadilah perkelahian diantara mereka, yang mana saat itu Ki Suro Ghoto dapat ditaklukkan oleh Ki Ageng Jenggot. Akan tetapi dengan kelicikan yang dimiliki oleh Ki Suro Gotho, Ki Ageng Jenggot dapat dikalahkan dan di bunuh dengan senjata yang di curi Dari Sunan Muria bernama Guling Muria (berbentuk ganda Kuning).
Dengan gugurnya Ki Ageng Jenggot inilah kemudian tempat gugurnya dikenal dengan desa Jinggotan yang mana terdiri dari 8 dukuh, yaitu Dukuh Segawe, Dukuh Kembang, Dukuh Tretes, Dukuh Segembul, Dukuh Jinggotan, Dukuh Sambirjo dan Dukuh Bendo sari, dan sekitar tahun 1997 salah satu Dukuh desa Jinggotan dijadikan Ibu Kota Kecamatan yaitu Dukuh Kembang menjadi Kecamatan Kembang yang mana mempunyai filosofi Kembang adalah identik dengan keharuman barang siapa yang mencium keharuman bunga maka kedamaian,kenyamamam dan kebahagiaan akan menemaninya inilah diantaranya alasan dukuh Kembang dijadikan Nama Kecamatan Kembang.
Versi II
Desa Jinggotan diambil dari nama Mbah Jinggotan (mbah Kartusoro/Hasan Anwar) yang mana di sinyalir dari Karejaan Karto suro, Karto Suro adalah Abdi dari Kerajaan karto suro yang diutus oleh Raja saat itu untuk membasmi para penjahat dan para perusuh rakyat yang berada di daerah Jinggotan (yang kala itu belum ada namanya) Mbah Kartosuro ditemani oleh seorang dayang yang bernma Nyai Sukowati yang saat itu bersama-sama melawan para perusuh rakyat yang berada di daerah wetan, daerah yang didatangi mbah kartosuro dan nyai sukowati saat itu terkenal angker dan hutan belantara, tetapi karena mbah kartosuro yang terkenal akan kemampuan kanuragannya berhasil menumpas para pemberontak atau perusah pada saat itu, akan tetapi karena kampung/tempat itu juga terkenal angker maka Mbah Kartosuro harus menaklukkan para lelembut yang mendiami tempat itu, dalam membasmi para lelembut saat itu mbah Kartosuro dibantu Mbah Podang Binarian yang terkenal dengan Ahli penakluk lelembut, akhirnya mbah karto suro berhasil menumpas dan menklukkan para lelembut sehingga membuat kampung/tempat tersebut menjadi aman, hingga bebarapa tahun kemudian banyak yang menetap disitu sehingga diberi Nama Kampung Jinggotan, karena semakin banyak yang menetap disitu hingga muncul nama kampung/dukuh dikampung Jinggotan diantaranya.
Kampung Jinggotan, Kampung/dukuh Jinggotan merupakan dukuh yang tertua karena diambil dari nama Mbah Jinggotan (Mbah Kartosuro) yang kebetulan tepat Semedi/sarean/petilasan/makam berada di kampung tersebut.
Kampung Sambirejo, berdasarkan saksi cerita sesepuh kampung bahwa nama sambirejo di sebut kampung baru yang mana pada saat kampung tersebut didiami oleh beberapa orang yang mengadakan kegiatan jual beli/perdagangan yang banyak para warga beraktivitas disitu sebungga ramai dan menjadi sumber raharjo/kemakmuran sehingga disebut kampung Samberejo.
Kampung Segembul, dari cerita yang beredar bahwa kampung Segembul bermula karena mata pencaharian kebanyak petani yang mengarap sawah/ladang saat itu karena luas ladang dan kemakmuran kala itu banyak orang yang menjalankan roda ekonomi dengan menanam padi, hasil dari mananm padi atau upah pekerja saat itu mendapat Segegem dan dipanggul karena sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan akhirnya kebanyakan mengatakan SEGEMBUL.
Kampung Tretes, Kampung tretes yang disinyalir mempunyai keunikan tertentu, karena disitu ada air yang menetes terus menerus tanpa henti/air sumber yang mana air yang menetes itu digunaan sebagaian warga untuk kebutuhan sehari-hari dan banyak orang yang beristirahat dikala bertani sehingga mereka sering menyebut Trus Netes sehingga saat ini terkenal dengan kampung Tretes.
Kampung Kembang, disinyalir kampung kembang ini diambil dari sosok seorang penjual kembang kala itu, karena dikampung tersebut setiap melakukan kajat/gawe/kegiatan banyak membutuhkan kembang sebagai pelengkapnya sehingga banyak orang yang berjualan/beli kempang ditempat tersebut, dan NYAI KMBANG juga dikenal akan tariannya sehingga banyak warga yang penasaran sehingga membeli kembang, hingga saat ini petilasan/makam nyai Kembang belum dapat dipastikan.
Kampung Segawe, disinyalir kampung Segawe ini diambil dari nama Pohon Saga yang saat itu tumbuh kembang diblantaran sungai dan ladang2 tersebut banyak para warga/orang mencari Pohon Saga untuk diambil daun/buahnya sebagai obat2tan tradional, sehingga kamopung ini terkenal dan banayk yang memanfaatkan sebagai penghasilan sehingga muncul nama Saga – (nama pohon) gawe (kerja/dimanfaatkan/dijual) sehingga mereka menyebut SAGAWE
Kampung Bendhasari, disinyalir juga kampung ini adalah kampung yang subur yang memiliki banyak pohon diantaranya adalah Pohon Bendho yang masih kerabat dengan pohon nangka, sukun. Kulit pohon berwarna abu – abu gelap hingga kelabu kecokelatan sedang bagian dalamnya kekuningan hingga cokelat pucat, teksturnya halus atau agak bersisik. Saat dilukai, kulit kayu mengeluarkan lateks tebal berwarna putih. dan mempuyai sari yang banyak jadi orang-orang saat itu meyebutkan Kampung Bendha sampai saat ini terkenal dengan BENDHASARI.