Neo-Jahiliyah

Coretan: Goes Doel

Jahiliyah, menurut Ahmad Amin dalam Fajr al-Islam tidak melulu bermakna “kejahatan” atau “kebodohan”, tetapi juga kekerasan, kesombongan bahkan kemarahan yang tak terkendali. jahiliyah sering digambarkan dengan aksi pelecehan martabat perempuan, menyamakan perempuan selayaknya “barang” yang bisa dijual-belikan, diberikan secara cuma-cuma, bahkan dipertukarkan dengan apapun. Selain itu, fanatisme golongan (firqah), rasisme, menjadi hal yang paling dibanggakan, kemudian perbedaan pendapat yang tidak bisa dikontrol dengan permusyawaratan, serta adanya penindasan terhadap kaum lemah by nature (dhu’afa’) dan dilemahkan by structure (mustadh’afin), yang kaya menindas yang miskin, yang kuat menginjak-injak yang lemah, yang berkuasa yang paling berhak “menentukan” segalanya.

Karakter jahiliyah ternyata tidak hanya diperankan oleh mereka yang belum tersentuh ajaran agung Nabi, manusia modern yang bahkan dianggap telah sempurna peradabannya juga mempraktekkan aksi-aksi jahiliyah, bagaimana mungkin manusia rela “memperdagangkan” manusia lain demi keuntungan pribadinya?, terlalu sering pula kita menyaksikan berbagai bentuk penindasan dan eksploitasi yang mengorbankan manusia-manusia “lemah”, bahkan sangat massif dan terkesan lumrah. Apabila hal ini terjadi, maka saat ini kita sedang dihadapkan dengan tambahan musuh baru yang harus kita berantas dan lawan, yaitu neo-jahiliyah, sehingga, jihad saat ini juga harus memformulasi model yang baru, yaitu jihad “memanusiakan manusia”, memposisikan manusia selayaknya makhluk Tuhan yang mulia dan dimuliakan.

Kita harus ingat, bahwa pada dasarnya, manusia merupakan makhluk Tuhan yang sangat terhormat, “dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al-Isra’: 70). Ayat ini dengan sangat gamblang menjelaskan akan penghormatan (takrim) Tuhan terhadap anak-cucu Adam. Penghormatan semacam ini menjadi wajar diterima manusia karena secara fisik manusia tercipta sangat sempurna [Qs. Al-Thin: 4], di samping juga dibekali dengan berbagai perangkat potensi yang oleh al-Ghazali disebut dengan an-nafs (jiwa, pribadi), al-qalb (hati nurani), al-ruh (ruh, nyawa), al-aql (pikiran, nalar) dan sebagainya, yang tentunya potensi-potensi ini sebagai bentuk kemuliaan manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain, dan penggunaan potensi-potensi kemanusiaan tersebut juga menjadi ukuran “kelebihan” (tafdhil) antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Jadi, tidak boleh ada manusia satu menindas manusia yang lain karena si penindas merasa lebih kuat, lebih kaya atau lebih berkuasa, karena pada prinsipnya mereka adalah setara, dan yang membedakan adalah sejauh mana mereka sanggup berlomba (dalam kebaikan) memfungsikan potensi-potensi anugerah Tuhan tersebut untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.

Untuk tujuan “memanusiakan” pulalah Allah mengutus Nabi dengan membawa “risalah” rahmatan lil-‘alamin. Ajaran Nabi menginspirasi penghargaan terhadap harkat dan martabat perempuan, kaum ibu menjadi lebih tinggi derajatnya tiga kali lipat dibandingkan kaum ayah, meski saat itu budaya patriarkhi masih sangat dominan. Fanatisme firqah diantisipasi dengan konsep kesamaan dan persamaan setiap makhluk Allah dihadapan-Nya dan yang membedakan kualitas masing-masing adalah ketaqwaan, bukan berasal dari kelompok dan keturunan siapa. Kemudian risalah Nabi juga menginspirasi masalah demokratisasi dan permusyawaratan sebagai upaya untuk mengantisipasi perpecahan dan perbedaan pendapat yang tidak terkontrol serta dominasi dan manipulasi kebijakan pihak-pihak yang memiliki interest dan ambisi pribadi maupun kelompok hanya karena mereka adalah “penguasa”. Dan juga, Nabi hadir dengan risalah yang menginspirasi terhadap konsep ideal mengenai kasih sayang dan berbagi, yang kaya harus berbagi dengan yang miskin, sehingga dianggap tidak sempurna iman seseorang apabila dirinya kenyang sementara tetangganya lapar, yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, sehingga dianggap tidak sempurna iman seseorang sampai ia sayang kepada yang lain sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri. Dan tentunya masih terlalu banyak inspirasi lain yang disabda-lakukan oleh Nabi sebagai upaya mengeluarkan manusia dari “kegelapan” menuju “cahaya terang-benderang” yang seharusnya kita internalisasi dalam setiap aksi kita sebagai umatnya.

Ajaran Nabi memberi semangat akan penghapusan segala bentuk kejahiliyahan, jadi, apabila hari ini kita masih saja menyaksikan aksi-aksi kejahiliyahan, maka kita patut berduka sedalam-dalamnya terhadap peradaban zaman ini, aksi simpati dan empati terhadap semua korban kejahiliyahan serta aksi kecaman terhadap para pelakunya harus terus menerus kita gelorakan. Wallahu A’lam.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan