Manganan di Sarean Balaikambang (Mbah Karto Suro)

Jinggotan (9/8/2019), Pemerintah Desa Jinggotan bersama dengan masyarakat desa Jinggotan kususnya wilayah RW 04 dan 05 atau dukuh Segembul, jinggotan dan samberjo mengadakan kegiatan rutin tiap tahun yaitu manganan di makam Balaikambang. dalam sambutannya Carik Jinggotan sekaligus PLT Petinggi Desa Jinggotan ( Didin Ardiansyah, S.Sn) manganan adalah tradisi neneng moyang yang perlu dilestarikan karena mengandung maksud sebagai ungkapan syukur atas segala apa yang diberikan oleh Allah kepada setiap hambanya, kegiatan seperti ini biasanya dilaksanakan ditempat-tempat yang dianggap keramat bagi warga sekitar, kebetulana tempat yang dianggap keramat oleh warga jinggotan kususnya di wilayah Rw 4 dan Rw 05 adalah di Makam Balai Kambang yang diakui oleh warga sekitar tempat itu adalah tempat peristirahatan terakhir seorang petapa sesepuh yang babat desa Jinggotan, manganan yang dilaksanakan di tempat tersebut sebagai apresiasi atau ucapan terima kasih warga masyarat kepada orang yang dianggap berjasa besar untuk desa sehingga disitu dilaksanakan kegiatan doa bersama sekaligus makan bersama (manganan).sudah menjadi jadwal rutin tiap tahunnya bagi masyarakat untuk mengadakan kegiatan manganan di hari Jumat Legi di bulan besar/dhulhijjah di makam mbah Karto Suro atau mbah Jinggotan dengan serangkaian acara diantaranya adalah Tanduk dan tahlil, tanduk adalah ikrar atau maksud dari diadakan kegiatan tersebut, adapun dalam kegiatan tersebut yang melaksanakan tanduk adalah bapak Moden (Rifa’i) yang sekaligus putra dari juru kunci (Mbah Samin). kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat desa jinggotan khususnya dari wilayah, segembul, jinggotan dan sambirjo akan tetapi dari penduduk luarpun banyak yang menghadiri tradisi mangan tersebut.kegiatan yang berada di Makam Karto Suro berjalan sesuai rencana dan lancar, yang di hadiri oleh Petinggi Jinggotan/PLT Petinggi Jinggotan, Perangkat desa, unsur pemuda, masrayarakat sekitar maupun luar desa. harapan dari pemerintah desa maupun juru kunci agar kegiatan tradisi ini tidak terlupakan atau pudar kita harus menjaga tradisi ini sebagai wujud rasa bersyukur kita kepada Illahirobbi. (Fadarosi)

Facebook Comments
%d blogger menyukai ini: