Makan Bersama Ala MI MH Jinggotan

Makan bersama Ala MI MH Jinggotan (20/11/2017), menurut Kepala Madrasah (M.Rifan) mengatakan bahwa dalam pendidikan tidak hanya mampu dalam kemampuan akademik tetapi juga jiwa sepiritual dan kebersamaan perlu tanamkan sejak dini antara lain adalah kegiatan makan bersama ala pesantren hal ini dikandung maksud bahwa dalam menghadapi hidangan atau makan walau dengan lauk sederhana akan tetapi akan terasa nikmat jika bersama-sama, disamping itu pula menumbuhkan sikap saling menghargai kebersamaan tidak membedakan anatara yang kaya dengan yang miskin, hal senada juga dikatakan oleh wali kelas 4 ( Khoirotun ) beliau mengatakan sangat setuju dengan program yang dilakukan oleh Kepala Madrasah karena anak akan teratus saat makan dan bisa mencontoh cara makan Nabi yaitu kebersamaan dan kesederhanaan. Hal ini juga disampaikan oleh Wakur MI MH Jinggotan mengatakan Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memang sudah dirancang oleh Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai contoh teladan yang baik (uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam hal pola makan yang bermuara pada kesehatan tubuh secara keseluruhan

Seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah mengalami sakit dua kali sakit. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.Pola makan seringkali dikaitkan dengan pengobatan karena makanan merupakan penentu proses metabolisme pada tubuh kita. Pakar kesehatan selama ini mengenal dua bentuk pengobatan yaitu pengobatan sebelum terjangkit penyakit atau preventif (ath thib Al wiqo’i) dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al’ilaji). Dengan mencontoh pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza). Hal itu jauh lebih baik dan murah daripada harus berhubungan dengan obat-obat kimia senyawa sintetik yang hakikatnya adalah racun, berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melalui makanan dengan senyawa kimia organik. Beberapa gambaran pola hidup sehat Rasulullah berdasarkan berbagai riwayat yang bisa dipercaya, sebagai berikut:

1. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Organ tubuh tersebut merupakan organ yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.

2. Di pagi hari pula Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya, bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan.

inilah program yang akan dicanangkan di MI Miftahul Hidayah Jinggotan dengan konsep Rasulullah.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan