LIVING PANCASILA = LIVING SYARI’AH

Coretan : Kang GoesDoel

“Living Pancasila” berarti mengimplementasikan nilai-nilai pancasila ke dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya, dalam menghias perjalanan hidup, kita tidak boleh “kesepen” dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan.

Pancasila itu telah diijtihadi oleh orang-orang hebat, para ulama dan negarawan yang cerdas dan berintegritas, kok tiba-tiba mau di”goyang-goyang” oleh mereka yang profesinya hanya “tukang teriak”, “pemakan mic”, “kuli panggung” dan “pengemis nasbung”. Antum waras kan? Hehe.

Tak satupun dari kelima sila dalam pancasila yang bertentangan dengan ajaran Agama -manapun- (terutama Islam) yang dianut di Indonesia. Wong aku dengar sendiri penjabaran si Udin (karena si Udin lah yang aku anggap paling menguasai bahkan hafal di luar kepala buku “Ilusi Negara Islam” itu), bahwa sila pertama merupakan pengakuan ketuhanan secara monoteistik, sila kedua adalah penghargaan pada nilai-nilai kemanusiaan dalam kerangka keadilan dan peradaban, sila ketiga berisi penolakan tegas terhadap sparatisme dan mendahulukan kebersamaan dan jamaah, sila keempat adalah tentang kepemimpinan yang bijak (hikmat) dengan sistem musyawarah dan perwakilan, serta sila kelima merupakan jaminan kesejahteraan bersama, keadilan, dan perlindungan hukum untuk siapapun tanpa terkecuali. Ini semua kan ajaran luhur agama juga.

Artinya bahwa mendasari hidup dengan nilai-nilai yang pancasilais seperti diatas, berarti sama dengan melaksanakan syari’ah, karena Pancasila merupakan salah satu bentuk “tafsir” atau pengejawantahan praksis dari nilai-nilai syari’ah dalam konteks keindonesiaan, dan inilah yang dimaksud dengan “living Pancasila” sama dengan “living Syari’ah”, sehingga sudah saatnya kita sebagai bangsa, “mensaktikan” kembali pancasila dalam wujud “living pancasila” dengan mengembalikan fungsi dan perannya sebagai dasar, pandangan hidup, jiwa, perjanjian luhur, kepribadian dan moral pembangunan bangsa Indonesia. Jadi, ketika “living pancasila” sama dengan “living syari’ah”, berarti konsisten memahami, menginternalisasi, menjalankan, serta memperjuangkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan keindonesiaan juga merupakan jihad fi sabilillah yang sebenarnya.

Kadang aku ya heran, mengapa belakangan ada saja kelompok orang yang senengnya tu teriak-teriak bahwa dasar dan pilar negara ini tidak sah karena bukan bikinan Tuhan, mereka tidak sadar bahwa dijadikannya manusia sebagai khalifah itu ya sama saja Tuhan telah memandatkan pengelolaan bumi seisinya ini kepada manusia, tetapi dengan catatan bahwa semua bentuk pengelolaan itu musti sesuai dengan “garis” Tuhan. Anehnya lagi, mereka tu mengatasnamakan diri dan kelompoknya paling beragama, pembela agama, bahkan ada yang mendaulat diri menjadi juru bicara Tuhan dan selalu berkata “atas nama Tuhan” akan tetapi kelakuannya justru sering menciderai “aturan Tuhan” karena bebas “membunuh”, melukai dan “merampas” hak siapa saja yang –dianggap- “berbeda” dari mereka. Mari ajak ngopi Din…….

Facebook Comments
%d blogger menyukai ini: