ANTARA FUNGSI DAN GENGSI

Coreten : Kang Gosdoel

Orang banyak itu memang tidak sedikit, begitu pula kala mereka mengorientasi hidup. Terkadang ya aneh, kala ada orang jujur malah dikatain culun, kala yang sederhana dianggap merana, saat yang tegas dibilang beringas dan jika ada yang apa adanya dianggap gak nggaya.

Kemarin ku ketemu dengan sorang pejabat desa yang udah agak udzur, dengan mata mengintip-intip dan jari telunjuk berusaha memencet-mencet hp yang kelihatan sangat jadul, ku pikir si bapak sedang nyari dimana letak simpenan gambar si “Hanna” yang sempat viral di youtube-youtube itu, tapi nuraniku berkata tak mungkin, wong hp-nya aja gak ada aplikasi macam-macam kok. Ku hampiri si bapak, ku nanya, “mbah, sampeyan kan pejabat, kok hp ne elik gitu?” sambil memasang muka cuek ia menjawab “yang penting kan fungsinya”. Haha. Tentu fungsi yang dimaksud ya yang penting dapat digunakan untuk telpon gitu. Aku cie cuma nyengir aja denger jawabannya, sambil melanjutkan obrolan tentang isu-isu aktual kedesaan terkait lowongan “carik”.

Setelah bubar ngobrol dengan si mbah pejabat Desa, ku pulang, eee, jebul di rumah sudah ada tamu, temen lama waktu SD yang sekarang menjadi mantan TKW, namanya Siti. Katanya cie dia mau ngundang aku selamatan di rumahnya dalam rangka “nylameti” pintu dapur yang baru dipasang, maklum, dulunya pintu terbuat dari bambu sekarang diganti kayu hasil karya kang Wahid. Ku lihat si Siti nenteng android capnya “Apel krowak”, spontan lah ku ngucap “hp-mu canggih ti”, dengan centilnya dia njawab “yang penting kan nggaya dan mahal mas….”.

pertemuan dengan simbah pejabat desa dan juga dengan si Siti ini akhirnya ku jadikan sebagai materi obrolan dengan sobat-sobat nongkrongku, siapa lagi kalo bukan si Udin, si Shinta dan si Mocin. Sambil “ngantin” ku mulai berkisah tentang hp jadulnya simbah pejabat dan apel krowaknya si Siti. Si Shinta dengan muka jengkelnya mulai berikan taushiyah, bahwa simbah pejabat desa tadi mewakili orang-orang zaman old, yang katanya serba kolot dan fungsional, sementara si Siti itu representasi manusia zaman now yang katanya harus serba wow.

Si Udin yang memang terkenal bijak (juga sering m-bajak), memaparkan mau’idzahnya, bahwa kisah hp itu sebagai gambaran “benturan” antara fungsi dan gengsi. Zaman gini, banyak manusia yang akhirnya kurang “sehat” karena hidupnya mengejar dan dikejar gengsi, bahkan rela “jual” diri hanya untuk nutupi gengsi.

Si Mocin, yang memang dari lahir otaknya sudah “ngeres” berusaha nambah-nambahi. Dia bilang, kalian tahu gak kenapa sebagian cowok tu minder dengan ukuran si “kunam” yang kecil standart lokal dan akhirnya lari ke mak Erot? Ya karena gengsi juga. Gak peduli fungsi yang penting “gede”-nya dapet, mau gak keras, gak lama dan gak asli, itu mah urusan lain. Padahal pada dasarnya, si “kunam” tu kan fungsinya sebagai alat produksi? Pungkasnya.

Sambil menghabiskan kopi sisa si Shinta, mulutku komat-kamit menggerutu, iya ya, sering orang “kehilangan” dirinya sendiri mana kala sudah terjangkit virus gengsi, hidup menjadi penuh dengki, menampilkan diri yang tak asli, imitasi dan hanya sensasi. Permisiiiiii……….

foto, ngambil di jalan, terimakasih untuk yang punya mobil, tulisannya bagus…hehehe

Facebook Comments
%d blogger menyukai ini: