Bangkit. ULAMA

Malam ini 30/1/2018 (19.30), kami yang orang kampung(an) melakukan doa bersama untuk para pejuang NU, sembari merefleksikan kualitas ke-NU-an kami yang tak ada sepucuk kuku hitam ini.

Para ulama kita membangun dan mengembangkan organisasi yang mulia ini dengan ramuan niat yang lurus dan juang yang tulus, serta perpaduan material, spiritual dan moral yang kuat dan inspiratif, sehingga wajar apabila ada yang “kurang ajar” dengan NU, maka bisa kuwalat dia.

Ulama kita dahulu benar-benar dapat mengejawantahkan spirit kebangkitan (nahdlah) dan keulama’an (ulama) secara holistik, kaffah.

Kebangkitan meniscayakan adanya sosok pejuang yang ikhlas, yang tidak membawa atau menyembunyikan ambisi dan kepentingan pribadinya di balik topeng organisasi. Kita tentu hafal slogan heroik para sepuh kita “urip-uripen NU, ojo golek urip seko NU”, apalagi golek urip “nganggo” NU.

Kemudian spirit keulamaan juga dibuktikan dengan laku moral yang shalih, sebagai representasi dari “kematangan” keilmuan, tidak berlebih-lebihan dalam beragama, merangkul sesama dan toleran terhadap yang “berbeda”.

Ukuran kebangkitan, keulamaan dan ke-NU-an tentunya tidak tersekat oleh hierarkhi struktural, sehingga salah besar apabila ada yang berpandangan atau merasa bahwa struktural yang lebih “tinggi” pasti lebih ngeN-U dibanding struktural yang lebih “rendah”, yang pengurus MWC pasti lebih kuat NU nya daripada yang pengurus ranting, yang Pengurus Cabang pasti lebih hebat NU nya dibanding pengurus MWC. Saling memberi apresiasi dan inspirasi itu jauh lebih bijak, daripada sekadar memberi orasi dan aspirasi.

Ranting, dahan, daun dan buah itu menjadi keluarga besar dari suatu pohon dengan akar yang sama, “yasyuddu ba’dluhu ba’dlan”, tak merasa paling dominan apalagi saling menegasikan.

Ya Rabbana, barik lana wa jam’iyyatina NU.

(Ketua ranting NU Jinggotan 1)

Facebook Comments
%d blogger menyukai ini: