Coretan Gus Doel

Menghamba

Malam 27 Rajab, selalu diperingati sebagai malam Isra’ dan mi’raj Baginda Nabi.

Tidak banyak yang aku sampaikan kepada ummat yang turut slametan di pondok, yang jumlahnya juga hanya beberapa gelintir orang, karena memang disarankan supaya tetap di rumah sebagai bentuk “social distancing”, upaya pencegahan Covid 19, begitu kira-kira.

Kisah Isra’ dan Mi’raj ini unik, karena dalam al-Qur’an, kisah tersebut tercantum dalam surat yang berbeda. Kisah Isra tersebut dalam surat al-Isra’, juz 15 dalam Mushaf, sedangkan mengenai Mi’raj dikisahkan dalam surat an-Najm, juz 27.

Tetapi, sebagaimana kita pahami, dalam ilmu al-Qur’an ada teori “Munasabah”, keterhubungan antar ayat bahkan antar surat.

Karena ini hanya catatan di pesbuk, dan kudu singkat biar yang komen gak bilang “dowuuu”, maka satu poin saja yang kutulis, yaitu bahwa antara yang di surat al-Isra’ (Subhana -lLadzi asra bi abdiHi) maupun an-Najm (fa awha ila abdiHi) sama-sama menggunakan term “Abd”, bermakna “hamba”, yang oleh para mufassir dipahami sebagai Baginda Nabi Muhammad saw.

Artinya, bahwa kanjeng Nabi adalah sosok yang paling sanggup merepresentasi diri sebagai hamba Allah yang sesungguhnya.

Namanya hamba itu, tidak “eta-ete”, selalu bersandar pada tuannya, ketika memiliki apapun, ia sadar bahwa hakikatnya itu milik tuannya, ketika melakukan apapun harus meminta ijin pada tuannya, berbuat apapun, semata-mata agar taunnya ridha. Kanjeng Nabi adalah contoh paling paripurna bagaimana seharusnya kita menghamba atau “ngawulo”.

Ini pembelajaran bagi semua, soale belakangan banyak sekali hamba yang berlagak tuan, “ita-itu”, kalau marah galaknya nyundul langit, bebas ngatur surga-neraka, merasa paling mewakili Tuhan, paling membela Tuhan, teriak atas nama Tuhan, sementara aturan Tuhan yang salah satunya adalah -istilah mbah Yai Mus- “memanusiakan manusia” tidak diindahkan.

Sadar akan kehambaan, itu poin penting dalam membangun tatanan kehidupan, beragama yang baik adalah turut serta berbuat maslahat di bumi sekaligus merasa sebagai hamba Tuhan yang tak punya apa-apa dan tak sanggup berbuat apa-apa tanpa ridha-Nya.

Selamat ber-Isra’-Mi’raj.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: