Tarling Ansor Jinggotan 1

Jinggotan, Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda GP. Ansor Ranting Jinggotn 1 mengikuti kegiatan tarling yang diprogramkan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Jinggotan 1 .

Tarling ini dilaksanakan di Musholla Nurul Huda Bendosari Jinggotan Kembang Jepara, yang diikuti oleh pengurus NU dan GP. Ansor Jinggotan 1, Jumat (22/04/2022).

Dalam Sambutannya wakil lingkungan atau Pengurus Musholla Nurul Huda Bapak Kasran “mengucapkan terima kasih kepada pengurus NU Ranting Jinggotan 1 beserta pengurus GP. Ansor dan merasa bersyukur karena masih banyak kegiatan – kegiatan keagamaan yang dilaksanakan.

Kegiatan keagamaan yang dimaksud misalnya Tahtimul Quran, didukuh Bendosari memang rutin melaksanakan kegiatan tahtimul quran setiap malam 21 Ramadhan, yang mana kegiatan ini dilaksanakan para generasi muda dari wilayah bendosari dan soko, dan diakhir biasanya dilaksanakan tahtmul quran, dan dibersamakan dengan kegiatan tarling.

Kiai Djuyatno selaku Katib suriah Ranting Nahdlatul ulama jinggotan 1 dalam sambutannya juga mengucapkan terima kasih karena antusiasnya warga bendosari dalam menerima kegiatan tarling, dan jangan bosan mengadakan kegiatan keagamaan karena kegiatan ini bermanfaat untuk warga terutama warga nahdliyin.

Kegiatan Tarling yang dibersamakan dengan tahtimul quran tersebut juga diadakan pengajian siraman rohani oleh ketua Tanflidiyah Jinggotan 1 kiai Abdul Wahab Sallem.

Dalam ceramahnya  Kiai Abdul Wahab sallem menjelaskan tentang turunya Al Quran, Al Quran diturunkan dalam dua cara, yaitu: Al Quran diturunkan secara lengkap di malam Lailatulqadar dari Lauh Mahfudz ke langit dunia Usai diturunkan ke langit dunia, Al Quran diturunkan ke Nabi Muhammad secara bertahap.

Ayat Al Quran yang turun ditulis di berbagai tempat, seperti di pelepah pohon kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit bintang, kayu, pelana, hingga potongan tulang binatang.

Akibat, banyak para penghafal Al Quran yang gugur. Hal itu menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya Al Quran. Oleh karena itu, Umar bin Khattab merasa perlu untuk membukukan Al Quran dan mengusulkannya kepada Khalifah Abu Bakar.

Khalifah Abu Bakar kemudian menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin proyek pembukuan Al Quran. Usai Al Quran berhasil dibukukan, kemudian dilakukan standarisasai pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Karena banyak terjadi perbedaan dialek di kalangan umat Islam, Khalifah Utsman memerintahkan untuk diseragamkan. Al Quran yang sekarang ini dijadikan pedoman menggunakan cara penulisan Utsman atau Rasm Utsmani.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan